Friday, March 2, 2007

~Hijrah Bagian (3)~



Melanjutkan tulisan yang sebelumnya berikut poin lainnya yang Rytha temukan selama ikut dalam "tarbiyah" ikhwani [PKS]....


3. Kedekatan dan toleransi terhadap ke bid’ahan


Ikhwah tarbiyah di kenal sebagai orang orang yang santun dan toleran [1]…. Mereka selalu menampilkan diri sebagai orang orang yang cinta damai. Dakwah mereka lebih banyak berfokus pada amal ma’ruf tapi sering melupakan dakwah nahi mungkar… Metoda dakwah seperti ini memang sedang popular sekarang ini, karena dengan dakwah ini cendrung akan lebih di senangi dan akan memperoleh banyak pengikut, sangat cocok diterapkan bagi yang sedang mencari dukungan sebanyak banyaknya… wallahualam….

Sikap tersebut karena ada suatu selogan yang telah mendarah daging dalam tiap hati para ikhwah di tarbiya.. yaitu selogan : “(Mari) kita saling tolong-menolong dalam perkara-perkara yang disepakati dan saling toleran dalam perkara-perkara yang diperselisihkan.” [2]

Dokrin ini sempat melandasi pola pikir Rytha juga, astaghfirullah, yang meletakkan dakwah pada amar makruf saja tapi menjauhkan nahi mungkar karena takut akan “menyakiti” hati orang lain..Hal ini cendrung membuat lebih bertoleransi terhadap perbedaaan….terkadang menjadi permissible terhadap hal hal yang merupakan prinsip…

Keinginan untuk menyatukan semua golongan membuat kelompok ikhwani berusaha selalu mencari titik temu perbedaan… dan mengkampanyekan islam yang warna warni…. [3] sampai pada titik dimana berusaha untuk mendekatkan paham mereka yang ahluh sunnah dengan para syi’ah dan golongan yang sesat lainnya…. Astaghfirullah…

Propaganda untuk tidak memusuhi golongan lain… mempercayai asal niatnya baik dan tujuannya sama, selama sama sama mencari ridho Allah semua firqoh firqoh itu benar….

Subhanallah…..

Untuk orang yang awam akan ilmu agama…. Pasti metoda seperti ini sangat berkesan dan menarik simpati mereka. Tetapi bila kita telah memahami ilmu akidah yang sebenarnya… baru akan terasa sekali bahwa sebelumnya berada dalam suatu kubangan lumpur dan berada di daerah abu abu yang tidak jelas….

Tidak akan pernah ada persatuan dalam hal apapun tanpa di landasi suatu landasan aqidah yang sama…yaitu dilandasi dengan dasar aqidah yang benar… Karena Aqidah adalah hal yang prinsip.. Dan memurnikannya dari semua kotoran adalah prinsip...... sebuah pondasi dari persatuan yang sebenarnya.... bukan persatuan yang semu semata...

Dalam hal deen tidak bisa hanya mengandalkan perasaan dan pikiran pribadi saja… niat yang baik belum tentu akan di ridhoi Allah bisa caranya salah…

Apakah mungkin seorang yang rajin ke kuburan para wali mengharapkan barokah, seorang yang mencaci maki ummuhatul mu’minin dan para sahabatnya bersatu dengan mereka yang beraqidah murni?
Apakah seorang muslim yang berakidah lurus tidak terbakar jiwanya bila ada orang lain yang mencaci maki ibu nya ?. Secara logika jawabannya tentulah tidak…

Bagaimana perasaan kita bila ada sekelompok orang yang cendrung untuk memplintir suatu agama kita dengan dalih untuk persatuan dan kepentingan jama’ah dengan mengatas namakan islam...?

Hanya dengan ilmu yang lurus kita bisa lebih paham insyaAllah…

Setiap orang di dunia ini bisa mengaku ngaku mengikuti Qur’an dan sunnah dan mengaku melakukan kebaikan… Tapi untuk mengetahui apa yang di ikuti itu adalah suatu kebenaran, seseorang tersebut haruslah terlebih dahulu paham apa itu kebenaran yang hakiki.
Orang bisa saja menginterpretasikan qur’an dan sunnah denagn cara nya masing masing…. Kalau kita tidak mempunyai pijakan pemahaman siapa yang benar.. kita akan sangat mudah untuk tergelincir.. Kita akan sangat mudah sekali terombang ambing dalam kebingungan....
Dalam hal ini pemahaman akan kebenaran yang sudah di jamin sendiri kebenarannya oleh Allah dan rasulnya.. itu adalah kebenaran yang di pahami para sahabat.. para salafus sholeh… Tidak menyelesihi apa yang mereka sepakati.... dan tidak keluar dari pendapat pendapat yang mereka selisihi.... tidak mengeluarkan pendapat baru yang mengikuti logika dan perasaan.... wallahualam..

Dengan banyaknya firqoh firqoh tersebut....suatu niat yang baik saja tidaklah cukup kalau cara dan metoda mereka tidak benar…. Ini bukan masalah hanya mengkritik suatu group saja tapi masalah menjaga kebenaran yang haq dari pencemaran dan mengaburkannya dengan subhat subhat . Alangkah buruknya mereka yang menyebarkan kebid’ahan dan ke musyrikan dengan menggunakan nama islam..

Kalau hanya masalah melakukan kebaikan.. kita bisa melihat bayak orang kafir, para misionaris yang melakukan kebaikan.. lewat lembaga lembaga sosial mereka…memberikan bantuan bantuan kesehatan dan meningkatkan taraf hidup banyak orang.. tapi seiring dengan “kebaikan” mereka, mereka juga menanamkan kepercayaan dan agama mereka…
wallahualam..

Selanjutnya….

Yang Rytha temukan pada jama’ah ikhwani … adanya kesenang meniru niru orang kufar (tasyabuh)…. Kalau di telusuri satu persatu akan banyak list nya…

Rytha akan beri beberapa contoh…

Kalau kita pergi bermobil dengan ikwah ikhwani… hampir di pastikan kita akan menemukan suasana yang tidak jauh berbeda dengan bermobil dengan orang awam… sama sama di dalam mobilnya akan ada “musik” Cuma musiknya mereka katakan sebagai musik islami….Musik seperti ini juga yang di temukan dalam walimah walimah mereka….. di kamar kamar mereka…

Kita akan menemukan pembicaraan tentang group group nasyid favorite mereka sama halnya orang orang awam membicarakan group group musik kesukaan mereka…

Bahkan group nasyid menjadi suatu cara untuk memikat pengunjung tatkala mereka mengadakan seminar atau event event lain….dan hampir di pastikan menjadi suatu selingan di antar satu tabligh…

Hanya sebagian kecil dari jamaah ini yang paham bahwa ulama ahlul sunnah sangat menentang musik… Tapi yang sebagian kecil ini mereka lebih memilih pendapat Yusuf Qardawi yang mengizinkan beberapa jenis musik….. Tapi yang kebanyakan adalah yang sama sekali tidak aware bahwa banyak ulama ahlul sunnah mengharamkannya……

Saat sekarang sekarang ini… masalah hijab menjadi sangat longgar di kalangan ikhwani… mungkin karena dakwah mereka sudah makin terbuka .. …wallahualam… yang Rytha rasakan .. Rytha merasa tidak nyaman dengan majelis majelis nya… jadi lebih memilih untuk tidak menghadiri yang namanya buka bersama… halal bihalal… rihlah…

Terkadang ada suatu event tabligh akbar di gelanggang olah raga…. Walaupun ikhwan dan akhwat duduk pada kelompok terpisah masing masing masih bisa saling melihat dengan jelas… acara yang penuh hingar bingar, selepas dari sana.. hati sama sekali beku…Bagi mereka yang berhati lurus pasti tidak akan tahan bertahan lama hingga acara usai…

Wallahu alam apa yang mereka rasakan…. Tapi apakah ahsan mengadakan piknik berkeluarga ke suatu tempat dan di tempat tersebut diadakan game keluarga… astaghfiurllah hanya tidak terbayangkan bagaimana ghiroh seorang suami melihat istrinya diantara para suami lain…. Dimana mereka bebas memandang istrinya terseyum.. dan menonton aktivitas nya bercengkrama dengan anak-anaknya…….

Bahkan pernah tercetus suatu ide yang sangat aneh…mengadakan game suami menutup mana lalu mencari istrinya….. Hanya tak terbayangkan saja…! Nauzubillah….

Ini adalah prilaku prilaku mencontoh kaum kufar….

Mereka masih tidak berkeberatan untuk menghadiri dan menggunakan perayaan perayaan atas nama syiar islam.. Walaupun moment tersebut adalah kebidahan… Dengan berusaha mengemas ke bid’ahan tersebut dalam bingkai islami…

Tidak mengherankan kalau mereka merayakan mawlid nabi… senantiasa mengucapkan dan merayakan Selamat ulang tahun… dengan alasan fikih prioritas…

Menggunakan prangkat prangkat subhat dalam da’wahnya….mencampur adukkan antara yang haq dan yang batil..... termasuk ketidak sungkanan dan pembelaan terhadap penggunaan perangkat demokrasi… dan tidak takut meniru niru orang kafir….. hanya mengemas sesuatu menjadi “islami”…

Kalau antum sudah lama mengaji tapi atum masih tidak mau mengikuti kegiatan kepartaian .. antum di anggap masih belum mengerti..

Demokrasi dan kepartaian yang mereka anggap sebagai sarana terbukti lebih menyeret mereka kedalam suatu lingkaran yang mereka "nikmati". Terlihat dengan tidak risihnya dalam pembicaraan sehari hari menggunakan panggilan .. oh dia ketua depera.. oh dia anggota dewan… dan yang sejenisnya… ungkapan ungkapan tersebut sudah seperti menjadi suatu kebanggan …

Ambisi diantara mereka untuk mencapai target dalam pemerintahan.. menyeret mereka untuk menghalal kan cara cara yang tidak ahsan…. Yang melupakan pada da’wah ilallah…

Kecintaan mendalam saudara saudara ikhwah di tarbiyah pada tafsir dan karya karya said Qutb [4]. Mereka mungkin hampir tidak terpiirkan bahwa para ulama terkemuka di abad ini banyak mengkritik tafsir tersebut dan telah dilakukan study mengenai pemikiran pemikiran sesat dari said Qutb itu sendiri..

Ketidak tahuan ini karena mereka sendiri belum pernah tahu siapakah ulama ulama yang harus di jadikan pijakan dan referensi. Mereka cendrung merefer ke ulama ulama moderat yang memiliki paham mu’tazilah…Mereka tentu akan kaget dengan kritikan kritikan pedas terhadap Yusuf Qordhowi [5]… karena sebagaian besar dari mereka yang mereka sangat tahu dan familiar dengan fatwa-fatwa ulama ini….

Wallahualam bishsowab…
Sekali lagi Rytha himbau untuk take time membaca artikel artikel di footnote.. karena sebenarnya pada link link tersebut ikhwah fillah semua bisa menemukan penjelasan yang lebih baik yang bisa menghantarkan pada pemahaman yang sebenarnya... ......

InsyaAllah bersambung


Hal-Hal Yang Perlu Diperhatikan Dalam Toleransi

Hal-Hal Yang Harus Dihindari Dalam Toleransi

Bolehkah Kita Toleransi Dan Kerja Sama Dakwah Dengan Jama'ah-Jama'ah Islam Yang Berbeda Manhaj ?

Apakah Mungkin Persatuan Terwujud Bersamaan Dengan Berbeda-Bedanya Manhaj Dan Aqidah?


[2]
Al Wala` Wal Bara` Ala Ikhwanul Muslimin
http://darussalaf.or.id/index.php?name=News&file=article&sid=71

Menepis Pemahaman Keliru dalam Mengingkari Kemungkaran
http://darussalaf.or.id/index.php?name=News&file=article&sid=118


[3]
Bolehkah Mengambil Kebaikan Setiap Firqah ?

PRINSIP PRINSIP MENGKAJI AGAMA
http://www.majalahsyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=67

[4]
Fatwa-Fatwa Para Ulama Tentang Sayyid Quthb

Komentar Terhadap Tulisan-Tulisan Muhammad Al-Ghazali

Menafsirkan Al-Qur'an Dengan Musik, Irama Dan Nyanyian Nasyid, Celaan Terhadap Nabi Musa Dan Sahabat

Islam Menurut Sayyid Quthub Adalah Pencampuran Antara Nashrani dan Komunis

Persaksian Para Pemuka Kelompok Ikhwanul Muslimin Atas Pemikiran Sayyid Quthub Yang Menyimpang


[5]
SIAPAKAH DR YUSUF QARDHAWI
http://darussalaf.or.id/index.php?name=News&file=article&sid=287

Penyimpangan pikiran Yusuf al-Qardhawi
http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=arsip&cat_id=5&start=30

8 comments:

Bowo Prasetyo

Assalamualaikum

Mba Rytha.. salam kenal.. blog yang sangat cantik.. dan tulisan anda tentang Hijrah.. telah menarik perhatian saya.

Dari serangkaian tulisan anda bertema hijrah ini, saya bisa mengerti kekecewaan yang anda rasakan di dalam jamaah tarbiyah ala PKS. Dan banyak hal yang saya sepakat dengan mba Rytha, terutama tentang keutamaan berilmu dulu sebelum nekat jadi murobbi... :)

Satu hal yang belum berhasil saya sepakati, adalah pemahaman mba Rytha tentang hal berikut..

Tidak akan pernah ada persatuan dalam hal apapun tanpa di landasi suatu landasan aqidah yang sama…yaitu dilandasi dengan dasar aqidah yang benar…

Yang kemudian dari pemahaman ini membuat kita sesama ummat Islam menjadi berpecah-belah.

Faham ini melihat masyarakat secara hitam dan putih dan membagi manusia menjadi 2 golongan:

1. Golongan yang benar, yaitu yang berlandaskan aqidah yang benar.

2. Golongan yang salah, yaitu yang berlandaskan aqidah yang salah.

Ketika prinsip ini kita terapkan dengan pemahaman bahwa Islam adalah aqidah yang benar, dan non-Islam adalah aqidah yang salah, maka inilah kebenaran yang diajarkan oleh Rasulullah dan disepakati oleh mayoritas ummat Islam.

Tetapi ketika prinsip ini diterapkan di dalam kalangan internal ummat Islam, maka mba Rytha dapat bayangkan apa yang akan terjadi, yaitu perpecahan. Setiap kelompok dan golongan akan mengklaim bahwa aqidah yang benar adalah aqidah versi mereka, sehingga kelompok lain yang level pehamamannya berbeda menjadi aqidah yang salah.

Hatta di dalam kelompok yang menyebut dirinya sebagai jamaah Salafi sekalipun tidak dapat dihindari akan muncul perbedaan level dalam memahami aqidah yang benar ini.. :)

Dengan demikian prinsip pembagian manusia ke dalam golongan benar dan golongan salah hanya dapat diterapkan dalam pengertian Islam dan non-Islam. Sedangkan penerapannya di dalam kalangan internal ummat Islam adalah sebuah kesembronoan yang akan mengakibatkan perpecahan.

Wallahu a'lam bis shawab.

Wassalam
bowo

Anonymous

BismillaahirRahmanirRahim.

Assalamu'alaikum warahmatullaah wabarakatuh.

Note from Rytha's Article "Tidak akan pernah ada persatuan dalam hal apapun tanpa di landasi suatu landasan aqidah yang sama…yaitu dilandasi dengan dasar aqidah yang benar…"


Akhi Bowo said "Setiap kelompok dan golongan akan mengklaim bahwa aqidah yang benar adalah aqidah versi mereka, sehingga kelompok lain yang level pehamamannya berbeda menjadi aqidah yang salah."

Sebelumnya dina mau tanya pada Akhi bowo,

Apakah aqidah orang ahlus sunnah, dengan aqidah syiah itu sama atau tidak ? (Apakah mungkin kita bisa bersatu dengan orang-orang syiah?)
Coba rujuk ke http://www.muslim.or.id Tentang Syi'ah.

atau Aqidah sebuah kelompok yang tidak percaya adzab qubur, apakah aqidah tersebut sesuai dengan Ajaran Rasulullaah salallaahu'alahiwasalam ?

atau Aqidah syaikh siti jenar yang bilang "Aku adalah Tuhan, Tuhan adalah AKu" yang kini di ikuti oleh jemaat sufi Naqshabandi dan lainnya.

atau Aqidah seseorang yang tidak percaya turunnya Nabi Isa alaihisalam turun kedunia sebagai ciri-ciri akan datangnya hari Kiamat?

atau Aqidah seseorang bahwa kita bisa minta tolong pada para Wali walaupun mereka telah mati?

dll

Apakah Aqidah tersebut sama dengan Aqidah yang diajarkan Allaah dan Rasul-Nya, dan juga para Sahabat dan para Salafus-shalih?

Aqidah Salafushaleh tentu sama, Bahkan Aqidah Imam 4 itu juga sama... Aqidah dari masa Sahabat,para salaf, dan generasi yang mengikuti mereka dengan baik adalah sama. Dan dengan Aqidah yang samalah mereka dapat bersatu, tidak mudah ditaklukan kaum Kafir dan Musyrik.


Akhi Bowo said " Dengan demikian prinsip pembagian manusia ke dalam golongan benar dan golongan salah hanya dapat diterapkan dalam pengertian Islam dan non-Islam. Sedangkan penerapannya di dalam kalangan internal ummat Islam adalah sebuah kesembronoan yang akan mengakibatkan perpecahan."

Ini membuktikan bahwa akhi Bowo mempercayai semua golongan walaupun aqidahnya tidak sesuai apa yang diajarkan oleh Nabi Muhammad salallaahu'alahi wasalam, asalkan dalam KTP mereka adalah Islam... maka mereka itu golongan yang benar. (Persis sama dengan yang dikatakan Ukhti Rytha ttg Saudara-saudara kita di Manhaj Ikhwani)

Anonymous

Ahlussunah tidak langsung menghukumi orang yang BerAqidah salah atau melakukan kesyirikan dengan "Kufur atau Musyrik" karena ada diantara mereka yang Jahil atau Bodoh dalam masalah agama. Maka kewajiban kitalah untuk menerangkan hal tersebut kepada kaum Muslimin.

Alhamdulillaah sis Rytha lewat blog ini juga berdakwah guna menerangkan yang Haq.

Semoga Allaah menjaga kita dari perbuatan syirik, bid'ah dan perbuatan maksiat lainnya.

Semoga Allaah mempererat Ukhuwah diantara kaum muslimin dengan beramar ma'ruf nahi munkar.

Semoga Allaah membalas kebaikan ukhti Rytha yang telah meluangkan waktunya untuk berdakwah dijalan-Nya.

Ameen Ya Rabb.

BarakAllaahu fikh.

Tauhid tidak diketahui kecuali dengan menjauhi lawannya, yaitu syirik, dan iman tidak akan terealisasikan keculi dengan menjauhi lawannya, yaitu kufur, maka kebenaran tidak akan didapatkan kecuali dengan mencermati kesalahan. Dan yang sepenuhnya sama seperti itu adalah “Sunnah”. Maka pemahaman sunnah tidak akan jelas dan tanda-tandanya tidak akan terang kecuali dengan mengetahui lawan katanya, yaitu “Bid’ah”. Dan sesungguhnya yang demikian itu telah disyaratkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya.

“Artinya : Sesungguhnya sebaik-baik ucapan adalah Kitabullah (Al-Qur’an), dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan seburuk-buruk perkara adalah hal-hal yang baru, dan setiap yang baru adalah bid’ah, dan setiap bid’ah di dalam neraka”

Demikian pula dalam sabdanya.

“Artinya : Maka kewajiban kamu adalah memegang teguh sunnahku dan sunnah khulafa’ rasyidin yang terbimbing. Peganglah erat-erat sunnah-sunnah itu dan hindarilah olehmu segala hal yang baru. Sebab setiap hal yang baru adalah bid’ah, dan setuap bid’ah adalah sesat, dan setiap yang sesat di dalam neraka." (Al-Musnad).

Semoga Kaum Muslimin Bersatu!

Sebagaimana Allaah Berfirman

“Dan sesungguhnya (yang Kami perintahkan) ini adalh jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain). Sebab jalan-jalan itu menceraiberaikan kamu dari jalanNya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa” [Al-An’am : 153]

Tafsir: Al-Hajjaj bin Jabr Al-Makki seorang tokoh tabi’in dan ahli tafsir, menjelaskan firman Allah, “Dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain)”, ia berkata, “Yakni, janganlah kamu mengikuti segala bentuk bid’ah dan syubhat”


--

Ukh Dina.

Rytha Nur'aini

Assallammu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh

Alhamdulillah...

Pertanyaan Mas Bowo sepertinya sudah di jawab oleh Dina...

Untuk lebih detailnya bisa di explore link link yang ada...

Jazakillahu khairan Dek
Fiamanillah

Bowo Prasetyo

Assalamualaikum

Terima kasih sekali mba Dina dan mba Rytha atas jawabannya.. dan mohon maaf karena terlupa jadi lama sekali baru membalas.

Dari jawaban mba Dina kalau boleh saya ringkas secara sistematis mungkin seperti di bawah:

1. Orang kafir jelas mempunyai aqidah yang salah, sehingga jelas akan masuk neraka.

2. Orang muslim terbagi kepada:
a. golongan yang beraqidah benar yang akan masuk surga dan
b. golongan yang beraqidah salah yang akan masuk neraka.

Pada point pertama saya kira tidak ada perbedaan di dalam mainstream ummat Islam di dunia. Nah.. masalahnya adalah pada point kedua di mana banyak perbedaan pendapat di antara kaum muslimin, tentang mana aqidah yang benar dan mana aqidah yang salah.

Mungkin beberapa yang disepakati oleh mainstream kaum muslimin tentang qolongan yang beraqidah salah antara lain:

1. Golongan Syiah, walaupun masih cukup banyak juga yang membenarkan untuk Syiah-2 tertentu.

2. Golongan Ahmadiyah, yang mengakui kenabian Ghulam Ahmad.

3. Golongan Islam jamaah, yang dikabarkan menggunakan sihir dan ancaman untuk mengikat pengikutnya.

4. Golongan Islam mistis yang mencampur-adukkan Islam dengan ilmu-ilmu kebatinan yang dipelajari dari jin.

5. Golongan Islam liberal yang membongkar kembali dasar-2 Islam yang telah baku untuk diberi pemahaman baru yang salah.

Apabila kesimpulan saya di atas benar.. maka saya sependapat dengan pandangan mba Dina dan mba Rytha tentang aqidah yang benar dan aqidah yang salah.

Mudah-2an kita semua dilindungi Allah dari golongan-2 yang beraqidah salah tersebut.

Wassalam
bowo

Anonymous

Alhamdulillaah akhi Bowo tampaknya mulai tau bahwa ada beberapa orang Musim mempercayai aqidah yang salah.

Oleh karena itu mari kita belajar lebih giat lagi, agar tidak terjerumus dengan keyakinan yang salah. Mungkin masih banyak kelompok atau orang yang mempunyai Aqidah yang menyimpang.

Mari belajar.

Sang Pencari

Note from Rytha's Article "Tidak akan pernah ada persatuan dalam hal apapun tanpa di landasi suatu landasan aqidah yang sama…yaitu dilandasi dengan dasar aqidah yang benar…".

Pertanyaan saya agak simple, bagaimana tanggapan mbak Rytha atas perbuatan Rosululloh yang meminta bantuan Abdulloh bin Uroqoith (Seorang Kafir Quraisy) sebagai penunjuk jalan disaat beliau hijrah ke Madinah.

Apakah ini tidak bisa dikategorikan "Persatuan yang dilandasi oleh akidah yang beda".

Rytha

Assallammu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh

Kepada Akhi Sang Pencari Said yang dirahmati Allah…

Afwan saya baru baca comment antum…

Akhi… terlepas dari apakah saya salah dalam memilih kalimat …. Sehingga menimbulkan tanda tanya dan persepsi yang salah bagi beberapa pembaca, saya minta maaf. Itulah mengapa saya selalu menyertakan link link referensi tulisan dari para ulama sehingga apa yang saya katakan bisa di cross check dengan sumber yang lebih shahih dan lebih ilmiyah..

Sebenarnya yang dimaksud dalam penulisan tersebut adalah persatuan secara hakiki… bukan persatuan dimulut saja, persatuan yang sampai kehati..

Allah subhana wa ta'ala sendiri hanya akan menyatukan hati hati kaum mu’mim yang bertauhid lurus :

Seperti yang Allah katakan : “Kamu kira mereka itu bersatu, sedang hati mereka berpecah-pelah. Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka itu adalah kaum yang tidak mengerti." [Al-Hasyr : 14]

Dan firman-Nya.

"Artinya : Dan mereka senantiasa berselisih pendapat, kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Rabbmu." [Hud : 118]

Keinginan untuk menyatukan agama, menyatukan fikrah fikrah yang sesat dan bekerja sama dengan mereka hal ini adalah hal yang mustahil….. persatuan tidak akan mungkin selamanya terjadi.. Yang haq tidak akan terkumpulkan dan tercampur dengan yang batil

Mengenai yang antum tanyakan… hal ini bukanlah yang dikategorikan persatuan dalam perbedaan akidah.. melaikan hubungan mu’amalah dengan non Moslem.

Rytha rasa bila kita meninjau syirah nabawiyah kita akan melihat mu’amalah dengan non Moslem tidak dilarang selama mereka bukanlah yang memusuhi islam… Dan kerjasama ini hanya dalam hal mu’amalah saja… Tidak berarti atas nama toleransi kita ikutan juga dalam perayaan perayaan mereka , membantu kegiatan keagamaan mereka..

InsyaAllah antum bisa lebih paham dalam tema ini bila antum mau membaca referensi yang diberikan… [memang sebelumnya link nya sempat error karena saya ambil link dari situs al manhaj yang lama dan sekarang sudah di perbaharui]…

Kalau ada yang salah….. mohon di koreksi .. insyaAllah..

Jazakallahu khair…